TALI RASA ADBM-MDLM
SEPASANG GARUDA JILID 20 BAB 16
“Bagaimana
jika aku mengatakan bahwa Kitab Jati Wangi akan dijadikan pedoman untuk menapak
puncak ilmu itu? Dan Agung Sedayu tentu akan bisa memecahkan teka-teki itu,”
sahut Sunan Muria.
“Dua hal
yang sangat memungkinkan, demi kemajuan ilmu anakmas Untara maka aku tetap pada
niatku awal, memberikan segala ilmu kepadanya, jika ada orang lain yang akan
memaksakan kehendak kepadaku maka akupun akan bersiap membuktikan diri sebagai pewaris tunggal ilmu trah Harya
Sadewa, jelasnya aku akan melihat dan mengukur kepantasan ilmu yang akan
diterima oleh Untara, jika mampu mengalahkanku maka aku siap membantu
sepenuhnya namun sebaliknya jika aku menang maka Untara akan berada dalam
asuhanku, jalur kakeknya sendiri.”
Panembahan
Pamungkas hanya dapat menarik nafas perlahan-lahan, segera pandangannya tertuju
kepada muridnya yang berdiri berseberangan, tatapan mata Agung Sedayu seolah
melontarkan berpuluh pertanyaan yang harus segera mendapat jawaban.
“Baiklah Ki
Puspa Ngasem, aku telah hadir sebagaimana yang telah dikehendaki oleh waktu, dengan
dua tanganku telah mendekap sepasang garuda itu sejak masih anak-anak, pikiran dan
hatiku telah tercurah demi pesan muridku yang pertama bernama Sadewa, namun ketika
sepasang garuda itu telah mampu terbang maka engkau datang dan mencoba menangkapnya
dengan tujuan kebaikan dan salah satu garudaku telah engkau jinakkan, aku memang
mengagumimu Panca Sadewa,” Kata Panembahan Pamungkas runtut dan mengalir seperti
derasnya sungai Praga di musim penghujan, berhenti sejenak dan menarik nafas perlahan,
seterusnya, “Namun garuda mudaku belum dapat engkau jinakkan, berbuatlah sebaik-baiknya
bila ingin menangkapnya, sebagai induknya aku akan memberikan waktu secukupnya bagi
siapapun yang ingin mencoba menangkapnya, namun demikian aku juka mengingatkan bahwa
garuda mudaku telah memiliki kuku tajam pada setiap cakarnya, jangan menyalahkan
siapapapun jika ternyata kuku itu menyayat dan membuat luka dan jangan meratap bila
paruhnya akan mencabik apa saja, siapapun yang mencoba menghalangi kebebebasannya
tentu akan menanggung akibatnya.”
“Hem..,” desah
Sunan Muria perlahan.
“Aku sebagai
Pamungkas akan menjadi saksi perburuan itu, jika kemudian terjadi kelicikan maka
aku tidak akan segan-segan menghancurkan setiap lawanku seperti aku menghancurkan
semua pendukung Sunan Kudus ataupun Haryo Penangsang, apakau engkau mengerti Panca
Sadewa.” Terdengar suara Kyai Gringsing berat.
Mata Panca
Sadewa seperti berkunang-kunang melihat wajah tua yang berdiri di samping Sunan
Muria itu, Harya Sadewa pernah bercerita tentang seorang anak muda aneh bersenjatakan
cambuk, ilmunya seaneh ilmu Mas Karebet Baginda raja Pajang, ilmu dari beberapa
orang yang pinunjul ing apapak telah lebur dan luluh menjadi satu.
”Aku akan
dengan mudah di kalahkannya, namun tidak dengan Sedayu adik Untara yang cengeng
ini, nasib Untara harus menjadi lebih baik, ilmunya harus meningkat,” gumamnya dalam
hati.
“Apakah engkau
mengerti apa yang kukatakan Panca Sadewa?” tanya Panembahan Pamungkas sekali lagi
membuyarkan lamunan orang dari Lembah Wonogiri itu, wajah tua itu nampak mengeras.
“Mengerti
Panembahan, aku berjanji sebagai laki-laki.” sahut Ki Puspa Ngasem.
“Baiklah,
saat wayah sepi wong, garuda muda itu menunggumu di gumuk Maguwo tidak terlalu jauh
dengan Kerto Jati, dan sekarang saatnya aku akan menerima pasukan kecil Mataram
yang menjemput angger Untara,” dan kepada sahabat yang sekaligus gurunya Panembahan
Pamungkas pun berkata, “Setelah pasukan Kepatihan itu datang maka hamba dan angger
Sedayu akan mengantarkan pulang ke Muria terlebih dahulu sebelum hadir ke Maguwo.”
Sunan Muria
hanya tersenyum sedih, hatinya merasakan kesedihan yang tengah dirasakan oleh Panembahan
tua itu.
demi kemajuan ilmu anakmas Untara maka aku tetap pada niatku awal, memberikan segala ilmu kepadanya, jika ada orang lain yang akan memaksakan kehendak kepadaku maka akupun akan bersiap membuktikan diri sebagai pewaris tunggal ilmu trah Harya Sadewa, jelasnya aku akan melihat dan mengukur kepantasan ilmu yang akan diterima oleh Untara, jika mampu mengalahkanku maka aku siap membantu sepenuhnya namun sebaliknya jika aku menang maka Untara akan berada dalam asuhanku, jalur kakeknya sendiri.”
BalasHapusjilid 1 nya kok gak ada
BalasHapusTerusnya MDLN nggih Mbah, maturnuwun wedarannya, saya tunggu serial 20 bab 25
BalasHapusMatur nuwun Mbah Jaya Mataram
BalasHapus