Sabtu, 12 Desember 2015

SEPASANG GARUDA JILID 20 BAB 16



TALI RASA ADBM-MDLM
SEPASANG GARUDA JILID 20 BAB 1
6


“Bagaimana jika aku mengatakan bahwa Kitab Jati Wangi akan dijadikan pedoman untuk menapak puncak ilmu itu? Dan Agung Sedayu tentu akan bisa memecahkan teka-teki itu,” sahut Sunan Muria.

“Dua hal yang sangat memungkinkan, demi kemajuan ilmu anakmas Untara maka aku tetap pada niatku awal, memberikan segala ilmu kepadanya, jika ada orang lain yang akan memaksakan kehendak kepadaku maka akupun akan bersiap membuktikan  diri sebagai pewaris tunggal ilmu trah Harya Sadewa, jelasnya aku akan melihat dan mengukur kepantasan ilmu yang akan diterima oleh Untara, jika mampu mengalahkanku maka aku siap membantu sepenuhnya namun sebaliknya jika aku menang maka Untara akan berada dalam asuhanku, jalur kakeknya sendiri.”

Panembahan Pamungkas hanya dapat menarik nafas perlahan-lahan, segera pandangannya tertuju kepada muridnya yang berdiri berseberangan, tatapan mata Agung Sedayu seolah melontarkan berpuluh pertanyaan yang harus segera mendapat jawaban.

“Baiklah Ki Puspa Ngasem, aku telah hadir sebagaimana yang telah dikehendaki oleh waktu, dengan dua tanganku telah mendekap sepasang garuda itu sejak masih anak-anak, pikiran dan hatiku telah tercurah demi pesan muridku yang pertama bernama Sadewa, namun ketika sepasang garuda itu telah mampu terbang maka engkau datang dan mencoba menangkapnya dengan tujuan kebaikan dan salah satu garudaku telah engkau jinakkan, aku memang mengagumimu Panca Sadewa,” Kata Panembahan Pamungkas runtut dan mengalir seperti derasnya sungai Praga di musim penghujan, berhenti sejenak dan menarik nafas perlahan, seterusnya, “Namun garuda mudaku belum dapat engkau jinakkan, berbuatlah sebaik-baiknya bila ingin menangkapnya, sebagai induknya aku akan memberikan waktu secukupnya bagi siapapun yang ingin mencoba menangkapnya, namun demikian aku juka mengingatkan bahwa garuda mudaku telah memiliki kuku tajam pada setiap cakarnya, jangan menyalahkan siapapapun jika ternyata kuku itu menyayat dan membuat luka dan jangan meratap bila paruhnya akan mencabik apa saja, siapapun yang mencoba menghalangi kebebebasannya tentu akan menanggung akibatnya.”

“Hem..,” desah Sunan Muria perlahan.

“Aku sebagai Pamungkas akan menjadi saksi perburuan itu, jika kemudian terjadi kelicikan maka aku tidak akan segan-segan menghancurkan setiap lawanku seperti aku menghancurkan semua pendukung Sunan Kudus ataupun Haryo Penangsang, apakau engkau mengerti Panca Sadewa.” Terdengar suara Kyai Gringsing berat.

Mata Panca Sadewa seperti berkunang-kunang melihat wajah tua yang berdiri di samping Sunan Muria itu, Harya Sadewa pernah bercerita tentang seorang anak muda aneh bersenjatakan cambuk, ilmunya seaneh ilmu Mas Karebet Baginda raja Pajang, ilmu dari beberapa orang yang pinunjul ing apapak telah lebur dan luluh menjadi satu.

”Aku akan dengan mudah di kalahkannya, namun tidak dengan Sedayu adik Untara yang cengeng ini, nasib Untara harus menjadi lebih baik, ilmunya harus meningkat,” gumamnya dalam hati.

“Apakah engkau mengerti apa yang kukatakan Panca Sadewa?” tanya Panembahan Pamungkas sekali lagi membuyarkan lamunan orang dari Lembah Wonogiri itu, wajah tua itu nampak mengeras.

“Mengerti Panembahan, aku berjanji sebagai laki-laki.” sahut Ki Puspa Ngasem.

“Baiklah, saat wayah sepi wong, garuda muda itu menunggumu di gumuk Maguwo tidak terlalu jauh dengan Kerto Jati, dan sekarang saatnya aku akan menerima pasukan kecil Mataram yang menjemput angger Untara,” dan kepada sahabat yang sekaligus gurunya Panembahan Pamungkas pun berkata, “Setelah pasukan Kepatihan itu datang maka hamba dan angger Sedayu akan mengantarkan pulang ke Muria terlebih dahulu sebelum hadir ke Maguwo.”

Sunan Muria hanya tersenyum sedih, hatinya merasakan kesedihan yang tengah dirasakan oleh Panembahan tua itu.

4 komentar:

  1. demi kemajuan ilmu anakmas Untara maka aku tetap pada niatku awal, memberikan segala ilmu kepadanya, jika ada orang lain yang akan memaksakan kehendak kepadaku maka akupun akan bersiap membuktikan diri sebagai pewaris tunggal ilmu trah Harya Sadewa, jelasnya aku akan melihat dan mengukur kepantasan ilmu yang akan diterima oleh Untara, jika mampu mengalahkanku maka aku siap membantu sepenuhnya namun sebaliknya jika aku menang maka Untara akan berada dalam asuhanku, jalur kakeknya sendiri.”

    BalasHapus
  2. Terusnya MDLN nggih Mbah, maturnuwun wedarannya, saya tunggu serial 20 bab 25

    BalasHapus
  3. Matur nuwun Mbah Jaya Mataram

    BalasHapus