Selasa, 15 Desember 2015

SEPASANG GARUDA JILID 20 BAB 19

TALI RASA ADBM-MDLM
SEPASANG GARUDA JILID 20 BAB 19

Perjalanan yang tidak terlalu jauh itu telah terselesaikan, Ki Patih Mandaraka telah menerima Untara dengan kening berkerut, darahnya meski perlahan telah terasa mendidih, namun orang tua itu masih bisa mengendalikan dirinya, apalagi dilihatnya Tumenggung Sapta Hasta masih terlihat tenang, sebuah hormat telah terucap dan wajah adik Untara itupun tersungging sebuah senyuman yang menyejukkan.

“Marilah, aku telah mempersiapkan gandok khusus untuk Tumenggung Untaradira,” tegas Ki Patih yang sudah terlalu sepuh itu.

Setelah semuanya selesai, Agung Sedayu masih terlihat berdiri di samping kakaknya, beberapa nasihat telah didengarnya.

“Agung Sedayu, aku mengerti kesulitanmu saat ini, bahwa lawanmu adalah kakak dari ayah kita, perasaan dan pikiran pastilah bertolak belakang, namun sebagai senopati perang Mataram dan juga sebagai kakak, maka aku wajib memberikan nasihat kepadamu, engkau harus lebih mementingkan dirimu sendiri dan aku akan terus bergantung dan mengikutimu, engkau adalah guru anom bagiku, maka tidak ada jalan lain kecuali menundukkan ki Puspa Ngasem, tundukkan dan kalahkan orang itu, engkau tidak boleh jatuh pada sifat ragu-ragu sebab jika sampai itu terjadi maka ilmu lawanmu akan dengan mudah menggilasmu dan itu sama artinya menggilasku pula, selalu ingatlah bahwa tugas besar telah menunggu kita, mengabdi kepada Mataram, negeri yang kita cintai.” Kata Untara mengalir pasti, memberi keteguhan niat dan tekad kepada adik satu-satunya.

Agung Sedayu terlihat menarik nafas dalam-dalam, hatinya telah terluka oleh keinginan guru Bagus Prapat itu, tetapi semuanya telah terjadi dan kesepakatan itu telah dibuat, serta gurunya telah menyetujui.

“Apa boleh buat, aku akan menyelamatkan namaku dan kakang Untara, pengabdian kepada Mataram tidak akan pernah berhenti oleh kecengangan yang menerpa sudut hati ini, Sapta Hasta akan berbuat sebaik-baiknya,” janjinya di dalam hati.

“Baiklah kakang, aku mengerti semua kata-katamu itu, tentu aku akan berusaha sekuat tenaga, aku mohon doa restumu kakang.”

“Pergilah Sedayu, ayah dan ibu akan selalu bangga terhadap sikap dan pencapaianmu, dan aku sebagai muridmu tentu tidak ingin melihat gurunya mengalami kesulitan, apalagi kalah, hanya satu yang kuinginkan Sedayu.”

“Katakan kakang.”

“Engkaulah yang terbaik di bumi Mataram, engkau harus menang dan kembali kepadaku dengan sebuah tuntunan, aku menunggumu.” Untaradira telah menatap wajah adiknya dengan sungguh-sungguh.

Nampak Agung Sedayu tersenyum, “Aku hanya manusia, aku hanyalah hambaNya, aku akan mohon pertolonganNya.”

“Pergilah sekarang, jangan biarkan Guru Panembahan menunggumu terlalu lama, aku memujanya seperti aku memuja ayah Sadewa, pergilah!”

Di mata Untaradira, adiknya bukanlah manusia yang haus akan sebuah kemenangan, Sedayu bukanlah orang yang ingin dipuja dan bukan pula manusia yang selalu berkeinginan untuk mengungguli orang lain, tetapi bila seseorang telah datang kepadanya dan menyampaikan suatu keburukan bahkan mengancam keselamatan jiwanya, maka Sapta Hasta tentu akan berubah menjadi momok bagi setiap lawannya, gelora samudra pastilah akan direngkuhnya, tingginya gunung pastilah akan di daki tanpa keraguan, Agung Sedayu adalah kebanggaannya.

Setelah berpamitan maka Ki Tumenggung Sapta Hasta telah berjalan melintasi ruangan tengah, memperhatikan keadaan sekeliling halaman Kepatihan dan duduk di pendapa menunggu kehadiran Ki Patih Mandaraka, pesan dan restu akan menjadi sandaran kekuatan tersendiri baginya.

1 komentar:

  1. Perintah Untara kepada Agung Sedayu, "Tundukkan dan kalahkan orang bernama Ki Puspa Ngasem itu, engkau tidak boleh jatuh pada sifat ragu-ragu sebab jika sampai itu terjadi maka ilmu lawanmu akan dengan mudah menggilasmu dan itu sama artinya menggilasku pula, selalu ingatlah bahwa tugas besar telah menunggu kita, mengabdi kepada Mataram, negeri yang kita cintai.”

    BalasHapus