TALI RASA ADBM-MDLM
SEPASANG GARUDA JILID 20 BAB 19
Perjalanan yang tidak terlalu jauh itu telah terselesaikan, Ki Patih
Mandaraka telah menerima Untara dengan kening berkerut, darahnya meski
perlahan telah terasa mendidih, namun orang tua itu masih bisa
mengendalikan dirinya, apalagi dilihatnya Tumenggung Sapta Hasta masih
terlihat tenang, sebuah hormat telah terucap dan wajah adik Untara
itupun tersungging sebuah senyuman yang menyejukkan.
“Marilah, aku telah mempersiapkan gandok khusus untuk Tumenggung Untaradira,” tegas Ki Patih yang sudah terlalu sepuh itu.
Setelah semuanya selesai, Agung Sedayu masih terlihat berdiri di samping kakaknya, beberapa nasihat telah didengarnya.
“Agung Sedayu, aku mengerti kesulitanmu saat ini, bahwa lawanmu adalah
kakak dari ayah kita, perasaan dan pikiran pastilah bertolak belakang,
namun sebagai senopati perang Mataram dan juga sebagai kakak, maka aku
wajib memberikan nasihat kepadamu, engkau harus lebih mementingkan
dirimu sendiri dan aku akan terus bergantung dan mengikutimu, engkau
adalah guru anom bagiku, maka tidak ada jalan lain kecuali menundukkan
ki Puspa Ngasem, tundukkan dan kalahkan orang itu, engkau tidak boleh
jatuh pada sifat ragu-ragu sebab jika sampai itu terjadi maka ilmu
lawanmu akan dengan mudah menggilasmu dan itu sama artinya menggilasku
pula, selalu ingatlah bahwa tugas besar telah menunggu kita, mengabdi
kepada Mataram, negeri yang kita cintai.” Kata Untara mengalir pasti,
memberi keteguhan niat dan tekad kepada adik satu-satunya.
Agung
Sedayu terlihat menarik nafas dalam-dalam, hatinya telah terluka oleh
keinginan guru Bagus Prapat itu, tetapi semuanya telah terjadi dan
kesepakatan itu telah dibuat, serta gurunya telah menyetujui.
“Apa boleh buat, aku akan menyelamatkan namaku dan kakang Untara,
pengabdian kepada Mataram tidak akan pernah berhenti oleh kecengangan
yang menerpa sudut hati ini, Sapta Hasta akan berbuat sebaik-baiknya,”
janjinya di dalam hati.
“Baiklah kakang, aku mengerti semua kata-katamu itu, tentu aku akan berusaha sekuat tenaga, aku mohon doa restumu kakang.”
“Pergilah Sedayu, ayah dan ibu akan selalu bangga terhadap sikap dan
pencapaianmu, dan aku sebagai muridmu tentu tidak ingin melihat gurunya
mengalami kesulitan, apalagi kalah, hanya satu yang kuinginkan Sedayu.”
“Katakan kakang.”
“Engkaulah yang terbaik di bumi Mataram, engkau harus menang dan
kembali kepadaku dengan sebuah tuntunan, aku menunggumu.” Untaradira
telah menatap wajah adiknya dengan sungguh-sungguh.
Nampak Agung Sedayu tersenyum, “Aku hanya manusia, aku hanyalah hambaNya, aku akan mohon pertolonganNya.”
“Pergilah sekarang, jangan biarkan Guru Panembahan menunggumu terlalu
lama, aku memujanya seperti aku memuja ayah Sadewa, pergilah!”
Di
mata Untaradira, adiknya bukanlah manusia yang haus akan sebuah
kemenangan, Sedayu bukanlah orang yang ingin dipuja dan bukan pula
manusia yang selalu berkeinginan untuk mengungguli orang lain, tetapi
bila seseorang telah datang kepadanya dan menyampaikan suatu keburukan
bahkan mengancam keselamatan jiwanya, maka Sapta Hasta tentu akan
berubah menjadi momok bagi setiap lawannya, gelora samudra pastilah akan
direngkuhnya, tingginya gunung pastilah akan di daki tanpa keraguan,
Agung Sedayu adalah kebanggaannya.
Setelah berpamitan maka Ki
Tumenggung Sapta Hasta telah berjalan melintasi ruangan tengah,
memperhatikan keadaan sekeliling halaman Kepatihan dan duduk di pendapa
menunggu kehadiran Ki Patih Mandaraka, pesan dan restu akan menjadi
sandaran kekuatan tersendiri baginya.
Perintah Untara kepada Agung Sedayu, "Tundukkan dan kalahkan orang bernama Ki Puspa Ngasem itu, engkau tidak boleh jatuh pada sifat ragu-ragu sebab jika sampai itu terjadi maka ilmu lawanmu akan dengan mudah menggilasmu dan itu sama artinya menggilasku pula, selalu ingatlah bahwa tugas besar telah menunggu kita, mengabdi kepada Mataram, negeri yang kita cintai.”
BalasHapus