TALI RASA ADBM-MDLM
SEPASANG GARUDA JILID 20 BAB 20
“Ki
Tumenggung Sapta Hasta, saatnya telah tiba bagimu, tembang tantangan
yang telah hadir sebagai pertanda khusus bagi sepasang Garuda Nglayang
untuk memulai tugasnya, kita semua tidak mengetahui bakal terjadi
peristiwa seperti ini, aku tidak pernah menduga bahwa kepergian
Untaradira ke Menoreh akan membawa goresan luka kewadagan yang cukup
parah, aku tidak menyangka bahwa Sunan Muria hadir dan terlibat dengan
keluarga besar Ki Sadewa, bahkan tidak mengerti akan terjadinya
kesepakatan memperebutkan Untara sebagai murid, tetapi percayalah dengan
perkataan rajamu, Sinuhun Prabu Hanyakrawati telah bertitah kepadaku
bahwa memang sudah saatnya Mataram melepas sepasang burung kebanggaannya
dan membiarkan terbang kemanapun, jika nantinya burung itu bisa kita
lihat karena kegagahan serta kekuatannya maka sejatinya Mataram memang
memiliki kekuatan yang patut di banggakan, namun sebaliknya jika
Sepasang Garuda itu ternyata mudah di taklukkan maka sebaiknya Mataram
harus mengkaji ulang tentang kemampuannya,” kata Ki Patih mandaraka saat
duduk hanya berdua dengan Agung Sedayu.
“Hamba Ki Patih.”
“Justru perintah itu datang dengan ketegasan seorang Raja,
diperintahkan kepada Sepasang Garuda itu untuk menundukkan siapa saja
yang tidak mau mengakui Mataram, melibat siapa saja yang mengusik
sendi-sendi kehidupan bebrayan nan agung dan mengertilah Ki Tumenggung,
bahwa menguatkan peradaban tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan
pikiran yang terlontar dengan kemampuan bicara saja, tidak bisa hanya
mengucapkan dalil-dalil dan mengajak semua orang itu setuju dengan
setiap gagasan kebaikan, namun peradaban harus di jaga dan di kawal
dengan sebuah kekuatan yang mumpuni dan Mataram akan segera memujudkan
kekuatan yang akan mengejutkan Jawadwipa,” sambung Ki Patih Mandaraka.
“Mohon doa restu Ki Patih,” suara Agung Sedayu terdengar perlahan.
“Demi Mataram, pergilah Ki Tumenggung Sapta Hasta, doa dan restuku akan mengiringi perjalananmu.”
“Sebentar lagi wayah sirep bocah, rupanya guru telah berada di tempat itu, hamba mohon diri Ki Patih Mandaraka.”
Sejenak kemudian, Sapta Hasta telah berdiri dan berjalan menuju kuda
yang telah dipersiapkan oleh seorang pekatik, seekor kuda yang tegar,
setegar kuda Untara yang bernama Werkudara.
“Jika saja hamba bisa
melayani Ki Tumenggung setiap saat, maka hamba merasa telah menjadi
orang paling bahagia di seluruh jagad,” kata abdi itu.
“Ah..,
engkau terlalu mengada-ada, akulah yang tidak pantas mendapatkan
pelayanan yang berlebihan, terima kasih, aku mohon diri, Ki Supara,”
kata Agung Sedayu berpamitan.
Sementara dari pendapa Ki Juru
Martani memperhatikan semuanya, nampak orang tua itu tersenyum bangga,
Mataram tidaklah mempunyai banyak orang yang bersikap seperti adik
Untara itu, seorang yang rendah hati dan mampu bergaul dengan segenap
lapisan rakyat Mataram, menyenangkan dan lembut tutur bahasanya, “Anakku
tentu harus belajar dari kebesaran jiwa dan pekerti seorang Agung
Sedayu, ilmunya yang telah menggetarkan langit tidak membuatnya angkuh
dan berubah pandangan terhadap sesama.” Dan orang tua itu terlihat
melambaikan tangan ketika melihat Agung Sedayu berlalu dengan
membungkukkan badannya.
Sejatinya setelah keluar dari istana
Mataram maka kuda itu telah berderap semakin lama semakin kencang,
langkah panjang dan cepat telah mengantarkan penunggangnya membelah
angin malam, Sapta Hasta nampak sangat menikmati lari kudanya, bahkan
terkadang memperlambat lari kudanya dan mengajak turangga itu bermain
dengan langkah-langkah yang rancak dan berseni, “Kuda yang bagus,” kata
murid Panembahan Pamungkas sembari menepuk leher dan membelai rambut
tunggangannya dan kuda Mataram itu telah menurut apa saja yang
diperintahkan tuannya, permainan yang menyatukan jiwa itu masih
berlanjut dan selanjutnya satu sikap yang akan membuat orang lain
terkejut apabila melihatnya, saat itu itu tiba-tiba Agung Sedayu
berteriak keras, “Mataram,” maka sontak saja kuda itu telah berdiri
dengan meringkik hebat, dua kaki depannya lepas dari tanah dan siap
menerjang siapa saja yang ada di hadapannya dan dalam sekejap kuda itu
telah berderap melesat kencang dengan gagahnya, bagaikan seseorang yang
kegirangan, Agung Sedayu pun menerjang kelam, seolah Panembahan Senopati
pun telah hadir kembali menemaninya, sepertinya Raden Sutawijaya
terlihat tersenyum bangga pada sahabatnya.
Sesorah ki Patih Mandaraka: "Menguatkan peradaban tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan pikiran yang terlontar dengan kemampuan bicara saja, tidak bisa hanya mengucapkan dalil-dalil dan mengajak semua orang itu setuju dengan setiap gagasan kebaikan, namun peradaban harus dijaga dan dikawal dengan sebuah kekuatan yang mumpuni dan Mataram akan segera memujudkan kekuatan yang akan mengejutkan Jawadwipa,”
BalasHapus