Selasa, 15 Desember 2015

SEPASANG GARUDA JILID 20 BAB 20

TALI RASA ADBM-MDLM
SEPASANG GARUDA JILID 20 BAB 20

“Ki Tumenggung Sapta Hasta, saatnya telah tiba bagimu, tembang tantangan yang telah hadir sebagai pertanda khusus bagi sepasang Garuda Nglayang untuk memulai tugasnya, kita semua tidak mengetahui bakal terjadi peristiwa seperti ini, aku tidak pernah menduga bahwa kepergian Untaradira ke Menoreh akan membawa goresan luka kewadagan yang cukup parah, aku tidak menyangka bahwa Sunan Muria hadir dan terlibat dengan keluarga besar Ki Sadewa, bahkan tidak mengerti akan terjadinya kesepakatan memperebutkan Untara sebagai murid, tetapi percayalah dengan perkataan rajamu, Sinuhun Prabu Hanyakrawati telah bertitah kepadaku bahwa memang sudah saatnya Mataram melepas sepasang burung kebanggaannya dan membiarkan terbang kemanapun, jika nantinya burung itu bisa kita lihat karena kegagahan serta kekuatannya maka sejatinya Mataram memang memiliki kekuatan yang patut di banggakan, namun sebaliknya jika Sepasang Garuda itu ternyata mudah di taklukkan maka sebaiknya Mataram harus mengkaji ulang tentang kemampuannya,” kata Ki Patih mandaraka saat duduk hanya berdua dengan Agung Sedayu.

“Hamba Ki Patih.”

“Justru perintah itu datang dengan ketegasan seorang Raja, diperintahkan kepada Sepasang Garuda itu untuk menundukkan siapa saja yang tidak mau mengakui Mataram, melibat siapa saja yang mengusik sendi-sendi kehidupan bebrayan nan agung dan mengertilah Ki Tumenggung, bahwa menguatkan peradaban tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan pikiran yang terlontar dengan kemampuan bicara saja, tidak bisa hanya mengucapkan dalil-dalil dan mengajak semua orang itu setuju dengan setiap gagasan kebaikan, namun peradaban harus di jaga dan di kawal dengan sebuah kekuatan yang mumpuni dan Mataram akan segera memujudkan kekuatan yang akan mengejutkan Jawadwipa,” sambung Ki Patih Mandaraka.

“Mohon doa restu Ki Patih,” suara Agung Sedayu terdengar perlahan.

“Demi Mataram, pergilah Ki Tumenggung Sapta Hasta, doa dan restuku akan mengiringi perjalananmu.”
“Sebentar lagi wayah sirep bocah, rupanya guru telah berada di tempat itu, hamba mohon diri Ki Patih Mandaraka.”

Sejenak kemudian, Sapta Hasta telah berdiri dan berjalan menuju kuda yang telah dipersiapkan oleh seorang pekatik, seekor kuda yang tegar, setegar kuda Untara yang bernama Werkudara.

“Jika saja hamba bisa melayani Ki Tumenggung setiap saat, maka hamba merasa telah menjadi orang paling bahagia di seluruh jagad,” kata abdi itu.

“Ah.., engkau terlalu mengada-ada, akulah yang tidak pantas mendapatkan pelayanan yang berlebihan, terima kasih, aku mohon diri, Ki Supara,” kata Agung Sedayu berpamitan.

Sementara dari pendapa Ki Juru Martani memperhatikan semuanya, nampak orang tua itu tersenyum bangga, Mataram tidaklah mempunyai banyak orang yang bersikap seperti adik Untara itu, seorang yang rendah hati dan mampu bergaul dengan segenap lapisan rakyat Mataram, menyenangkan dan lembut tutur bahasanya, “Anakku tentu harus belajar dari kebesaran jiwa dan pekerti seorang Agung Sedayu, ilmunya yang telah menggetarkan langit tidak membuatnya angkuh dan berubah pandangan terhadap sesama.” Dan orang tua itu terlihat melambaikan tangan ketika melihat Agung Sedayu berlalu dengan membungkukkan badannya.

Sejatinya setelah keluar dari istana Mataram maka kuda itu telah berderap semakin lama semakin kencang, langkah panjang dan cepat telah mengantarkan penunggangnya membelah angin malam, Sapta Hasta nampak sangat menikmati lari kudanya, bahkan terkadang memperlambat lari kudanya dan mengajak turangga itu bermain dengan langkah-langkah yang rancak dan berseni, “Kuda yang bagus,” kata murid Panembahan Pamungkas sembari menepuk leher dan membelai rambut tunggangannya dan kuda Mataram itu telah menurut apa saja yang diperintahkan tuannya, permainan yang menyatukan jiwa itu masih berlanjut dan selanjutnya satu sikap yang akan membuat orang lain terkejut apabila melihatnya, saat itu itu tiba-tiba Agung Sedayu berteriak keras, “Mataram,” maka sontak saja kuda itu telah berdiri dengan meringkik hebat, dua kaki depannya lepas dari tanah dan siap menerjang siapa saja yang ada di hadapannya dan dalam sekejap kuda itu telah berderap melesat kencang dengan gagahnya, bagaikan seseorang yang kegirangan, Agung Sedayu pun menerjang kelam, seolah Panembahan Senopati pun telah hadir kembali menemaninya, sepertinya Raden Sutawijaya terlihat tersenyum bangga pada sahabatnya.

1 komentar:

  1. Sesorah ki Patih Mandaraka: "Menguatkan peradaban tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan pikiran yang terlontar dengan kemampuan bicara saja, tidak bisa hanya mengucapkan dalil-dalil dan mengajak semua orang itu setuju dengan setiap gagasan kebaikan, namun peradaban harus dijaga dan dikawal dengan sebuah kekuatan yang mumpuni dan Mataram akan segera memujudkan kekuatan yang akan mengejutkan Jawadwipa,”

    BalasHapus